MAKALAH
KEPEMIMPINAN DAN KERJASAMA TIM
DALAM ORGANISASI
Disusun guna memenuhi
tugas
Mata Kuliah : Manajemen
Pendidikan
Dosen Pengampu : DR. H. Fatah Syukur NC, M.Ag.

Disusun Oleh :
1.
MUHAMMAD HARIS NIM : 113511085
2.
PURNAMA NIM : 113511086
3.
NUR LATIF BURHANUDIN NIM : 113511087
PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM
NEGERI (IAIN)
WALISONGO SEMARANG
2012
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Manusia diciptakan oleh Allah SWT
kemuka bumi ini, sebagai khalifah (pemimpin) dimuka bumi ini, oleh sebab itu
maka manusia tidak terlepas dari perannya sebagai pemimpin, dimensi
kepemimpinan merupakan peran sentral dalam setiap upaya pembinaan. Hal ini
telah banyak dibuktikan dan dapat dilihat dalam gerak langkah setiap
organisasi. Peran kepemimpinan begitu menentukan bahkan seringkali menjadi
ukuran dalam mencari sebab-sebab jatuh bangunnya suatu organisasi. Dalam
menyoroti pengertian dan hakikat kepemimpinan, sebenarnya dimensi kepemimpinan
memiliki aspek-aspek yang sangat luas, serta merupakan proses yang melibatkan
berbagai komponen didalamnya dan saling mempengaruhi.
Dewasa ini kita tengah
memasuki Era Globalisasi yang bercirikan suatu interdependensi, yaitu
suatu era saling ketergantungan yang ditandai dengan semakin canggihnya sarana
komunikasi dan interaksi. Perkembangan dan kemajuan pesat di bidang teknologi
dan informasi memberikan dampak yang amat besar terhadap proses komunikasi
dan interaksi tersebut. Era globalisasi sering pula dinyatakan sebagai era
yang penuh dengan tantangan dan peluang untuk saling bekerja sama. Dalam
memasuki tatanan dunia baru yang penuh perubahan dan dinamika tersebut, keadaan
dewasa ini telah membawa berbagai implikasi terhadap berbagai bidang kehidupan,
termasuk tuntutan dan perkembangan bentuk komunikasi dan interaksi sosial dalam
suatu proses kepemimpinan.
B Rumusan Masalah.
- Apa yang dimaksud dengan Kepemimpinan?
- Apa yang dimaksud dengan kepemimpinan dalam organisasi?
- Apa yang dimaksud dengan Gaya kepemimpinan?
- Apa yang dimaksud Kerjasama Tim?
- Apa yang dimaksud Manajemen Konflik?
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN KEPEMIMPINAN
Dalam praktek
sehari-hari, sering diartikan sama antara pemimpin dan kepemimpinan, padahal
macam pengertian tersebut berbeda. Pemimpin kedua adalah orang yang tugasnya
memimpin, sedang kepemimpinan adalah bakat dan atau sifat yang harus dimiliki
seorang pemimpin.
Istilah kepemimpinan dalam bahasa
Indonesia diambil dari bahasa inggris leadership. Menurut Prof. Dr.
H. Arifin Abdurrahman, “kepemimpinan sebagai
kemampuan
seseorang untuk menggerakkan orang-orang mengikuti pemimpinan”.[1]
Pentingnya kepemimpinan dalam
pendidikan relevan dengan hadits yang ditegaskan Nabi yaitu “…jika engkau
berjalan lebih dari satu orang, maka pilihlah diantara kalian untuk menjadi
seorang pemimpin….”. dalam hadits yang lain, nabi bersabda:
عَنْ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ
عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص م كُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُوْلٌ عَنْ
رَعِيَّتِهِ وَالْإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ
رَاعٍ فِي اَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعٍ فِي
بَيْتِ زَوْجِهَا وَهِيَ مَسْئُوْلَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا وَالْخَادِمُ رَاعٍ فِي
مَالِ سَيِّدِهِ وَمَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَنْ مَالِ
أَبِيْهِ وَمَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُوْلٌ
عَنْ رَعِيَّتِهِ. رواه البخارى ومسلم
Artinya: Dari ibnu umar r.a berkata,
Rasulullah bersabda; “kamu sekalian adalah pemimpin dan akan dimintai
pertanggungjawaban atas kemimpinan kamu. Seorang imam adalah pemimpin dan ia
akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpiannya. Seorang ayah adalah
pemimpin keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas
kepemimpinannya. Seorang ibu adalah pemimpin di rumah tangga suaminya dan ia
akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang pembantu adalah pemimpin dalam
menjaga harta tuannya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban, seorang anak
adalah pemimpin dalam menjaga harta benda ayahnya dan ia akan dimintai
pertanggungjawaban. Kamu sekalian adalah pemimpin dan akan dimintai
pertanggungjawabannya atas kepemimpinannya”. (HR. Bukhari Muslim).
Ada beberapa
pengertian kepemimpinan, antara lain:
- Kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi, dalam situasi tertentu dan langsung melalui proses komunikasi untuk mencapai satu atau beberapa tujuan tertentu (Tannebaum, Weschler and Nassarik, 1961, 24).
- Kepemimpinan adalah sikap pribadi, yang memimpin pelaksanaan aktivitas untuk mencapai tujuan yang diinginkan. (Shared Goal, Hemhiel & Coons, 1957, 7).
- Kepemimpinan adalah suatu proses yang mempengaruhi aktifitas kelompok yang diatur untuk mencapai tujuan bersama (Rauch & Behling, 1984, 46).
- Kepemimpinan adalah kemampuan seni atau tehnik untuk membuat sebuah kelompok atau orang mengikuti dan menaati segala keinginannya.
- Kepemimpinan adalah suatu proses yang memberi arti (penuh arti kepemimpinan) pada kerjasama dan dihasilkan dengan kemauan untuk memimpin dalam mencapai tujuan (Jacobs & Jacques, 1990, 281).
Dari beberapa pengertian tersebut dapat ditarik pengertian baru
bahwa Kepemimpian adalah sesuatu yang dimiliki oleh seseorang
sehingga seseorang tersebut mampu menggerakkan orang-orang untuk melakukan
perbuatan atau tindakan dengan penuh kesadaran dan keikhlasan guna mencapai
tujuan.
Prinsip – prinsip dasar kepemimpinan. Prinsip, sebagai paradigma terdiri
dari beberapa ide utama berdasarkan motivasi pribadi dan sikap serta mempunyai
pengaruh yang kuat untuk membangun dirinya atau organisasi. Menurut Stephen R. Coney (1997), Karakteristik seorang pemimpin didasarkan kepada prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Seorang yang belajar seumur hidup
2. Berorientasi pada pelayanan
3. Membawa energi yang positif
B. KEPEMIMPINAN DALAM
ORGANISASI
Adapun peran kepemimpinan adalah
sebagai suatu pengorganisasian yang merupakan susunan prosedur, tata kerja,
tata laksana, dan hal-hal yang mengatur organisasi itu agar bisa berjalan
lancar. Melalui pengorganisasian diatur pembagian kerja, hubungan kerja,
struktur kerja dan pendelegasian wewenang.
Selain itu dalam kehidupan organisasi
kepemimpinan adalah bagian dari tugas utama yang harus dilaksanakan. Tetapi
untuk merumuskan apa yang dimaksud fungsi kepemimpinan adalah sama sulitnya
memberikan definisi tentang kepemimpinan itu sendiri.
Kesulitan ini terjadi sebab
kepemimpinan menarik perhatian para pakar untuk menelitinya, sehingga
melahirkan penelitian kepemimpinan yang berbeda-beda, hampir sebanyak mereka
para pakar yang melakukan penelitian. Masing-masing hasil penelitian berdiri
sendiri tidak saling terkait sesuai dengan latar belakang konsep yang dimiliki
oleh para pakar. Timbullah berbagai macam pendekatan di bidang kepemimpinan,
lahirlah pendekatan sifat, perilaku, situasi dan pendekatan kontingensi.
Walaupun demikian, untuk lebih memahami fungsi kepemimpinan lebih lanjut perlu
lebih dulu mempelajari makna yang terkandung dalam definisi.
Ada beberapa definisi tentang
pemimpin yang mana dari definisi-definisi tersebut mengandung indikasi bahwa
serangkaian tugas yang perlu dilaksanakan oleh seorang pemimpin, adalah :
1. Membangkitkan kepercayaan dan loyalitas bawahan
2. Mengkomunikasikan gagasan kepada orang lain
3. Dengan berbagai cara mempengaruhi orang lain
4. Seorang pemimpin adalah
seorang besar yang dikagumi dan mempesona dan dibanggakan.
Fungsi menurut pendapat kedua pakar adalah sebagai
berikut :
1. James A.F. Stoner
Berpendapat bahwa seorang pemimpin mempunyai 2 fungsi
pokok, yaitu :
a. Task related atau problem
solving function, dalam fungsi ini pemimpin memberikan saran dalam pemecahan
masalah serta memberikan sumbangan informasi dan pendapat.
b. Group maintenance function
atau social function meliputi pemimpin membantu kelompok beroperasi lebih
lancar, pemimpin memberikan persetujuan atau melengkapi anggota kelompok yang
lain.
2. Selznick yang disitir oleh
Richard H. Hall dalam bukunya yang berjudul Organization Structure and Process
(1982).
Ada empat macam tugas penting
seorang pemimpin dalam berorganisasi:
a) Mendefinisikan misi dan
peranan organisasi (involves the definition of the institutional organizational
mission and role)
b) Seorang pemimpin adalah
pengejawantahan tujuan organisasi (the institutional embodiment of purpose)
c) Mempertahankan keutuhan
organisasi (to defend the organization’s integration)
d) Mengendalikan
konflik internal yang terjadi di dalam organisasi (the ordering of internal
conflict).
C. GAYA KEPEMIMPINAN
Gaya kepemimpinan,
pada dasarnya mengandung pengertian sebagai suatu perwujudan tingkah laku dari
seorang pemimpin, yang menyangkut kemampuannya dalam memimpin. Perwujudan tersebut biasanya membentuk suatu pola atau bentuk
tertentu. Pengertian gaya kepemimpinan yang demikian ini sesuai dengan pendapat
yang disampaikan oleh Davis dan Newstrom (1995). Keduanya menyatakan bahwa pola
tindakan pemimpin secara keseluruhan seperti yang dipersepsikan atau diacu oleh
bawahan tersebut dikenal sebagai gaya kepemimpinan.
Gaya kepemimpinan dari seorang pemimpin,
pada dasarnya dapat diterangkan melalui tiga aliran teori berikut ini.
1.
Teori
Genetis (Keturunan). Inti dari teori menyatakan bahwa “Leader are born and nor
made” (pemimpin itu dilahirkan (bakat) bukannya dibuat). Para penganut aliran
teori ini mengetengahkan pendapatnya bahwa seorang pemimpin akan menjadi
pemimpin karena ia telah dilahirkan dengan bakat kepemimpinan. Dalam keadaan
yang bagaimanapun seseorang ditempatkan karena ia telah ditakdirkan menjadi
pemimpin, sesekali kelak ia akan timbul sebagai pemimpin. Berbicara mengenai
takdir, secara filosofis pandangan ini tergolong pada pandangan fasilitas atau
determinitis.
2.
Teori
Sosial. Jika teori pertama di atas adalah teori yang ekstrim pada satu sisi,
maka teori inipun merupakan ekstrim pada sisi lainnya. Inti aliran teori sosial
ini ialah bahwa “Leader are made and not born” (pemimpin itu dibuat atau
dididik bukannya kodrati). Jadi teori ini merupakan kebalikan inti teori
genetika. Para penganut teori ini mengetengahkan pendapat yang mengatakan bahwa
setiap orang bisa menjadi pemimpin apabila diberikan pendidikan dan pengalaman
yang cukup.
3.
Teori
Ekologis. Kedua teori yang ekstrim di atas tidak seluruhnya mengandung
kebenaran, maka sebagai reaksi terhadap kedua teori tersebut timbullah aliran
teori ketiga. Teori yang disebut teori ekologis ini pada intinya berarti bahwa
seseorang hanya akan berhasil menjadi pemimpin yang baik apabila ia telah
memiliki bakat kepemimpinan. Bakat tersebut kemudian dikembangkan melalui
pendidikan yang teratur dan pengalaman yang memungkinkan untuk dikembangkan
lebih lanjut. Teori ini menggabungkan segi-segi positif dari kedua teori
terdahulu sehingga dapat dikatakan merupakan teori yang paling mendekati
kebenaran. Namun demikian, penelitian yang jauh lebih mendalam masih diperlukan
untuk dapat mengatakan secara pasti apa saja faktor yang menyebabkan timbulnya
sosok pemimpin yang baik.
Selain pendapat-pendapat yang
menyatakan tentang timbulnya gaya kepemimpinan tersebut, Hersey dan Blanchard
(1992) berpendapat bahwa gaya kepemimpinan pada dasarnya merupakan perwujudan
dari tiga komponen, yaitu pemimpin itu sendiri, bawahan, serta situasi di mana
proses kepemimpinan tersebut diwujudkan. Bertolak dari pemikiran tersebut,
Hersey dan Blanchard (1992) mengajukan proposisi bahwa gaya kepemimpinan (k)
merupakan suatu fungsi ( f) dari pimpinan (p), bawahan (b) dan situasi tertentu (s)., yang dapat
dinotasikan sebagai : k = f (p, b, s).
Menurut Hersey dan Blanchard,
pimpinan (p) adalah seseorang yang dapat mempengaruhi orang lain atau kelompok
untuk melakukan unjuk kerja maksimum yang telah ditetapkan sesuai dengan tujuan
organisasi. Organisasi akan berjalan dengan baik jika pimpinan mempunyai
kecakapan dalam bidangnya, dan setiap pimpinan mempunyai keterampilan yang
berbeda, seperti keterampilan teknis, manusiawi dan konseptual. Sedangkan
bawahan adalah seorang atau sekelompok orang yang merupakan anggota dari suatu
perkumpulan atau pengikut yang setiap saat siap melaksanakan perintah atau
tugas yang telah disepakati bersama guna mencapai tujuan. Dalam suatu
organisasi, bawahan mempunyai peranan yang sangat strategis, karena sukses
tidaknya seseorang pimpinan bergantung kepada para pengikutnya ini. Oleh sebab
itu, seorang pemimpinan dituntut untuk memilih bawahan dengan secermat mungkin. Adapun situasi (s) menurut Hersey dan Blanchard adalah suatu keadaan yang
kondusif, di mana seorang pimpinan berusaha pada saat-saat tertentu
mempengaruhi perilaku orang lain agar dapat mengikuti kehendaknya dalam rangka
mencapai tujuan bersama. Dalam satu situasi misalnya,
tindakan pimpinan pada beberapa tahun yang lalu tentunya tidak sama dengan yang
dilakukan pada saat sekarang, karena memang situasinya telah berlainan. Dengan
demikian, ketiga unsur yang mempengaruhi gaya kepemimpinan tersebut, yaitu pimpinan,
bawahan dan situasi merupakan unsur yang saling terkait satu dengan lainnya,
dan akan menentukan tingkat keberhasilan kepemimpinan.
Tipologi Kepemimpinan
Dalam praktiknya, dari ketiga gaya kepemimpinan tersebut
berkembang beberapa tipe kepemimpinan; di antaranya adalah sebagai berikut
(Siagian,1997).
a.
Tipe
Otokratis. Seorang pemimpin yang otokratis ialah pemimpin yang memiliki
kriteria atau ciri sebagai berikut: Menganggap organisasi sebagai pemilik
pribadi; Mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi; Menganggap
bawahan sebagai alat semata-mata; Tidak mau menerima kritik, saran dan
pendapat; Terlalu tergantung kepada kekuasaan formalnya; Dalam tindakan
pengge-rakkannya sering memperguna-kan pendekatan yang mengandung unsur paksaan
dan bersifat menghukum.
b.
Tipe
Militeristis. Perlu diperhatikan terlebih dahulu bahwa yang dimaksud dari
seorang pemimpin tipe militerisme berbeda dengan seorang pemimpin organisasi
militer. Seorang pemimpin yang bertipe militeristis ialah seorang pemimpin yang
memiliki sifat-sifat berikut : Dalam menggerakan bawahan sistem perintah yang
lebih sering dipergunakan; Dalam menggerakkan bawahan senang bergantung kepada
pangkat dan jabatannya; Senang pada formalitas yang berlebih-lebihan; Menuntut
disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahan; Sukar menerima kritikan dari
bawahannya; Menggemari upacara-upacara untuk berbagai keadaan.
c.
Tipe
Paternalistis. Seorang pemimpin yang tergolong sebagai pemimpin yang
paternalistis ialah seorang yang memiliki ciri sebagai berikut : menganggap
bawahannya sebagai manusia yang tidak dewasa; bersikap terlalu melindungi
(overly protective); jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk
mengambil keputusan; jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk
mengambil inisiatif; jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk
mengembangkan daya kreasi dan fantasinya; dan sering bersikap maha tahu.
d.
Tipe
Karismatik. Hingga sekarang ini para ahli belum berhasil menemukan
sebab-sebab-sebab mengapa seseorang pemimpin memiliki karisma. Umumnya
diketahui bahwa pemimpin yang demikian mempunyai daya tarik yang amat besar dan
karenanya pada umumnya mempunyai pengikut yang jumlahnya yang sangat besar,
meskipun para pengikut itu sering pula tidak dapat menjelaskan mengapa mereka
menjadi pengikut pemimpin itu. Karena kurangnya pengetahuan tentang sebab
musabab seseorang menjadi pemimpin yang karismatik, maka sering hanya dikatakan
bahwa pemimpin yang demikian diberkahi dengan kekuatan gaib (supra natural
powers). Kekayaan, umur, kesehatan, profil tidak dapat dipergunakan sebagai
kriteria untuk karisma. Gandhi bukanlah seorang yang kaya, Iskandar Zulkarnain
bukanlah seorang yang fisik sehat, John F Kennedy adalah seorang pemimpin yang
memiliki karisma meskipun umurnya masih muda pada waktu terpilih menjadi
Presiden Amerika Serikat. Mengenai profil, Gandhi tidak dapat digolongkan
sebagai orang yang ‘ganteng”.
e.
Tipe
Demokratis. Pengetahuan tentang kepemimpinan telah membuktikan bahwa tipe
pemimpin yang demokratislah yang paling tepat untuk organisasi modern. Hal ini
terjadi karena tipe kepemimpinan ini memiliki karakteristik sebagai berikut :
dalam proses penggerakan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa
manusia itu adalah makhluk yang termulia di dunia; selalu berusaha
mensinkronisasikan kepentingan dan tujuan organisasi dengan kepentingan dan
tujuan pribadi dari pada bawahannya; senang menerima saran, pendapat, dan
bahkan kritik dari bawahannya; selalu berusaha mengutamakan kerjasama dan teamwork dalam
usaha mencapai tujuan; ikhlas memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada
bawahannya untuk berbuat kesalahan yang kemudian diperbaiki agar bawahan itu
tidak lagi berbuat kesalahan yang sama, tetapi lebih berani untuk berbuat
kesalahan yang lain; selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses
daripadanya; dan berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai
pemimpin.
D. PENGERTIAN KERJASAMA TIM
Pengertian Kerjasama TIM
Tim adalah suatu unit yang terdiri atas dua orang atau
lebih yang berinteraksi dan mengoordinasi kerja mereka untuk tujuan tertentu.
Definisi ini memiliki tiga komponen. Pertama, dibutuhkan dua orang atau lebih.
Kedua, orang – orang dalam sebuah tim memiliki interaksi regular. Ketiga, orang
– orang dalam sebuah tim memiliki tujuan kinerja yang sama.
Jenis-jenis Tim
a Tim Formal
Tim formal diciptakan oleh organisasi sebagai bagian
dari struktur formal organisasi. Dua jenis tim formal yang paling umum adalah
tim vertikal dan tim horizontal.
b. Tim Vertikal
Tim vertikal terdiri dari seorang manajer dan para
bawahannya dalam rantai komando formal. Terkadang tim ini disebut tim
fungsional atau tim komando. Setiap tim diciptakan oleh organisasi
untuk mencapai tujuan – tujuan tertentu lewat aktifitas dan interaksi bersama
para anggota.
c. Tim Horizontal
Tim horizontal terdiri atas karyawan – karyawan dari
tingkat hierarkis yang hamper sama, tetapi dari bidang keahlian yang berbeda.
Dua jenis tim horizontal yang paling umum adalah angkatan tugas dan komite.
d. Tim dengan Tujuan Khusus
Tim dengan tujuan khusus adalah tim yang diciptakan
diluar organisasi formal untuk mengerjakan proyek kepentingan atau kreatifitas
khusus. Tim dengan tujuan khusus masih merupakan bagian dari organisasi formal
dan memiliki struktur laporannya sendiri.
e. Tim dengan Kepemimpinan Mandiri
Tim yang dibentuk dalam satu departemen yang sama dan
anggotanya adalah karyawan untuk mendiskusikan cara-cara peningkatan kualitas,
efisiensi dll.
E. MANAJEMEN KONFLIK
Konflik adalah perbedaan pendapat antara dua atau lebih banyak anggota
organisasi atau kelompok, karena harus membagi sumber daya yang langka, atau
aktivitas kerja dan atau karena mereka mempunyai status, tujuan, penelitian,
atau pandangan yang berbeda. Para anggota organisasi
atau sub-unit yang sedang berselisih akan berusaha agar kepentingan atau
pandangan mereka mengungguli yang lainnya . Konflik
merupakan sebuah situasi dimana dua orang atau lebih menginginkan tujuan-tujuan
yang menurut persepsi mereka dapat dicapai oleh salah seorang diantara mereka,
tetapi hal itu tidak mungkin dicapai oleh kedua belah pihak . Konflik adalah
perilaku anggota organisasi yang dicurahkan untuk beroposisi terhadap anggota
yang lain, prosesnya dimulai jika satu pihak merasa bahwa pihak lain telah
menghalangi atau akan menghalangi sesuatu yang ada kaitan dengan dirinya atau
hanya jika ada kegiatan yang tidak cocok . Di antara definisi yang berbeda itu
nampak ada suatu kesepakatan, bahwa konflik dilatarbelakangi oleh adanya
ketidakcocokan atau perbedaan dalam hal nilai, tujuan, status, dan lain
sebagainya. Terlepas dari faktor yang melatarbelakangi
terjadinya suatu konflik, gejala yang mengemuka dalam suatu organisasi saat
terjadi konflik adalah saat individu atau kelompok menunjukkan sikap
“bermusuhan” dengan individu atau kelompok lain yang berpengaruh terhadap
kinerja dalam melakukan aktivitas organisasi.
Konflik yang sudah
terjadi juga bisa diselesaikan lewat perundingan. Cara ini dilakukan dengan
melakukan dialog terus menerus antar kelompok untuk menemukan suatu
penyelesaian maksimum yang menguntungkan kedua belah pihak. Melalui
perundingan, kepentingan bersama dipenuhi dan ditentukan penyelesaian yang
paling memuaskan. Gaya perundingan untuk mengelola konflik dapat dilakukan
dengan cara :
a.
pencairan, yaitu dengan melakukan dialog untuk mendapat suatu pengertian
b.
keterbukaan, pihak-pihak yang terlibat bisa jadi tidak terbuka apalagi jika
konflik terjadi dalam hal-hal sensitif dan dalam suasana yang emosional.
c.
belajar empati, yaitu dengan melihat kondisi dan kecemasan orang lain
sehingga didapatkan pengertian baru mengenai orang lain
d.
mencari tema bersama, pihak-pihak yang terlibat dapat dibantu dengan cara
mencari tujuan-tujuan bersama
e.
Menghasilkan alternatif, hal ini dilakukan dengan jalan mencari alternatif
untuk menyelesaikan persoalan yang diperselisihkan.
f.
Menanggapi berbagai alternatif, setelah ditemukan alternatif-alternatif
penyelesaian hendaknya pihak-pihak yang terlibat dalam konflik mempelajari dan
memberikan tanggapan
g.
Mencari penyelesaian, sejumlah alternatif yang sudah dipelajari secara
mendalam dapat diperoleh suatu konsensus untuk menetapkan suatu penyelesaian
h.
Membuka jalan buntu, kadangkala ditemukan jalan buntu sehingga pihak ketiga
yang obyektif dan berpengalaman dapat diikutsertakan untuk menyelesaikan
masalah
i.
Mengikat diri kepada penyelesaian di dalam kelompok, setelah dihasilkan
penyelesaian yang disepakati, pihak-pihak yang terlibat dapat memperdebatkan
dan mempertimbangkan penyelesaian dan mengikatkan diri pada penyelesaian.
j.
Mengikat seluruh kelompok, tahap terakhir dari langkah penyelesaian konflik
adalah dengan penerimaan atas suatu penyelesaian dari pihak-pihak yang terlibat
konflik.
Langkah-langkah
Manajemen Untuk Menangani Konflik
a.
Menerima
dan mendefinisikan pokok masalah yang menimbulkan ketidak puasan. Langkah ini
sangat penting karena kekeliruan dalam mengetahui masalah yang sebenarnya akan
menimbulkan kekeliruan pula dalam merumuskan cara pemecahannya.
b.
Mengumpulkan keterangan/fakta Fakta yang dikumpulkan haruslah lengkap dan
akurat, tetapi juga harus dihindari tercampurnya dengan opini atau pendapat. Opini atau pendapat sudah dimasuki unsur subyektif. Oleh karena itu
pengumpulan fakta haruslah dilakukan denganm hati-hati Menganalisis dan
memutuskan Dengan diketahuinya masalah dan terkumpulnya data, manajemen
haruslah mulai melakukan evaluasi terhadap keadaan. Sering kali dari hasil
analisa bisa mendapatkan berbagai alternatif pemecahan.
c.
Memberikan jawaban, meskipun manajemen kemudian sudah memutuskan, keputusan
ini haruslah dibertahukan kepada pihak karyawan.
d.
Tindak lanjut. Langkah ini diperlukan untuk mengawasi akibat dari keputusan
yang telah diperbuat.
e.
Pendisiplinan Konflik dalam
organisasi apabila tidak ditangani dengan baik bisa menimbulkan tindakan
pelecehan terhadap aturan main yang telah disepakati bersama. Oleh karena itu
pelecehan ataupun pelanggaran terhadap peraturan permainan (peraturan
organisasi) haruslah dikenai tindakan pendisiplinan agar peraturan tersebut
memiliki wibawa.
Penanganan
Konflik
Metode Untuk
Menangani Konflik. Metode yang sering digunakan untuk menangani konflik adalah pertama
dengan mengurangi konflik; kedua dengan menyelesaikan konflik. Untuk metode
pengurangan konflik salah satu cara yang sering efektif adalah dengan
mendinginkan persoalan terlebih dahulu (cooling thing down). Cara kedua dengan
metode penyelesaian konflik. Cara yang ditempuh adalah dengan mendominasi atau menekan, berkompromi dan
penyelesaian masalah secara integratif.
a.
Dominasi (Penekanan). Dominasi dan penekanan mempunyai persamaan makna,
yaitu keduanya menekan konflik, dan bukan memecahkannya, dengan memaksanya
“tenggelam” ke bawah permukaan dan mereka menciptakan situasi yang menang dan
yang kalah. Pihak yang kalah biasanya terpaksa
memberikan jalan kepada yang lebih tinggi kekuasaannya, menjadi kecewa dan
dendam. Penekanan dan dominasi bisa dinyatakan dalam bentuk pemaksaan sampai
dengan pengambilan keputusan dengan suara terbanyak (voting).
b.
Kompromi
Melalui kompromi mencoba menyelesaikan konflik dengan menemukan dasar yang di tengah dari dua pihak yang berkonflik ( win-win solution ). Cara ini lebih memperkecil kemungkinan untuk munculnya permusuhan yang terpendam dari dua belah pihak yang berkonflik, karena tidak ada yang merasa menang maupun kalah. Meskipun demikian, dipandang dari pertimbangan organisasi pemecahan ini bukanlah cara yang terbaik, karena tidak membuat penyelesaian yang terbaik pula bagi organisasi, hanya untuk menyenangkan kedua belah pihak yang saling bertentangan atau berkonflik
Melalui kompromi mencoba menyelesaikan konflik dengan menemukan dasar yang di tengah dari dua pihak yang berkonflik ( win-win solution ). Cara ini lebih memperkecil kemungkinan untuk munculnya permusuhan yang terpendam dari dua belah pihak yang berkonflik, karena tidak ada yang merasa menang maupun kalah. Meskipun demikian, dipandang dari pertimbangan organisasi pemecahan ini bukanlah cara yang terbaik, karena tidak membuat penyelesaian yang terbaik pula bagi organisasi, hanya untuk menyenangkan kedua belah pihak yang saling bertentangan atau berkonflik
c.
Penyelesaian
secara integrative.
Dengan
menyelesaikan konflik secara integratif, konflik antar kelompok diubah menjadi
situasi pemecahan persoalan bersama yang bisa dipecahkan dengan bantuan
tehnik-tehnik pemecahan masalah (problem solving). Pihak-pihak yang
bertentangan bersama-sama mencoba memecahkan masalahnya,dan bukan hanya mencoba
menekan konflik atau berkompromi. Meskipun hal ini merupakan cara yang terbaik
bagi organisasi, dalam prakteknya sering sulit tercapai secara memuaskan karena
kurang adanya kemauan yang sunguh-sungguh dan jujur untuk memecahkan persoalan
yang menimbulkan persoalan.
DAFTAR PUSTAKA
Atmodiwirio, Soebagio, Manajemen
Pendidikan Indonesia, Jakarta: PT. Ardadizya, 2005.
Maman Ukas, Manajemen Konsep, Prinsip, dan Aplikasi, (Bandung :
Ossa Promo, 1999).
Marsetio Donosepoetro, Manajemen dalam Pengertian dan
PendidikanBerpikir, Surabaya : 1982.
Nanang Fattah, Landasan Manajemen Pendidikan, Bandung :
Rosdakarya, 2004.
[1] Moenir, A.S. kepemimpinan kerja, peranan, tekhnik dan
keberhasilannya,(Jakarta : Bina Aksara, 1988), hlm. 232.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar